Cari artikel

Minggu, 24 Agustus 2014

Perekat lignin

Meskipun lignin adalah turunan phenolic, mereka sangat berbeda dari tanin. Bahan ini tersedia dalam jumlah besar dengan harga rendah, tetapi mereka bereaksi jauh lebih lambat dengan formaldehyde. Pasokan lignin tersedia dalam jumlah besar, karena merupakan produk samping pada proses pembuatan pulp untuk bahan baku kertas. Lignin merupakan 24%-33% dari bahan kayu di kayu lunak dan 16%-24% dari kayu keras. Lignin yang asli adalah polimer crosslinking, tetapi polimer ini harus terdegradasi sebagian untuk dapat dipisahkan dari cellulosics. Untuk tujuan perekatan,  maka  lignin yang terdegradasi memerlukan proses polimerisasi lebih lanjut untuk menghasilkan sifat perekat berguna. Meskipun hampir sepenuhnya aromatik, lignin hanya memiliki sedikit cincin fenolik dan tidak punya cincin polyhydroxy phenyl shingga menyebabkan reaktivitasnya yang rendah terhadap formaldehyde.
Rendahnya harga dari lignin telah menyebabkan banyak penelitian untuk menemukan cara mengubah lignin menjadi perekat termoset yang berguna. Lignin dari proses pulping kraft tidak mengarah bisa menjadi produk yang bermanfaat karena biaya pemisahannya dari pulp yang mahal dan inkonsistensi dari produk lignin. Namun, lignosulfonat yang terkandung dalam cairan sulfat (SSL) dari sulfide pulp kayu telah ditemukan manfaatnya sebagai bahan baku pada produksi lignin reaktif. Karena reaksinya yang  lambat dengan formaldehyde, maka banyak penelitian dilakukan untuk menemukan mekanisme pengeringan yang  lain, termasuk penggunaan panas,  dengan asam peroksida dan katalis. Tiga metode penggunaan SSL sebagai perekat utama pada particle board dengan : postheating, pemanasan dengan dengan asam sulfat dan pemanasan dengan hidrogen peroksida . SSL juga telah digunakan sebagai extender  untuk phenol-formaldehyde dan urea-formaldehyde. Reaktivitas lignin yang rendah  bisa diubah dengan cara  pre-methyolation menggunakan formaldehyde, dan hal ini telah digunakan pada resin PF dalam perekatan kayu lapis.