Cari artikel

Sabtu, 02 Agustus 2014

Penggunaan adhesive dalam industri woodworking

Industri woodworking saat ini berhubungan dengan banyak macam dan jenis kayu yang masing-masing memiliki sifat-sifat yang unik dan berbeda satu sama lain. Selain itu industri woodworking juga menghasilkan produk-produk dengan kegunaan yang berbeda-beda yang tentu saja membutuhkan spesifikasi yang berbeda-beda. Untuk menjawab kebutuhan dari industri woodworking yang beraneka ragam itu maka industri wood adhessive (lem kayu) juga telah menciptakan beraneka ragam jenis dan tipe adhesssive yang diharapkan bisa memenuhi permintaan dari industri wodworking. Dalam keadaan demikian maka saat ini pegetahuan tentang pemilihan jenis lem kayu yang tepat sesuai dengan kebutuhannya merupakan suatu hal yang sangat diperlukan oleh para pelaku industri woodworking. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lem antara lain adalah: harga, proses produksi yang dikerjakan, kekuatan dan keawetan.
Konsumsi terbesar pada wood adhessives adalah industri pembuatan panel seperti plywood, fiberboard, particle board, oriented strandboard (OSB). Selain pada plywod, pemakaian lem kayu pada panel-panel tersebut digunakan untuk mengikat partikel-partikel dari kayu membentuk suatu panel yang tersusun dari susunan lem dan potongan atau serpihan kayu. Strandboard, partikel board dan fiber board dibuat dari suatu lem kayu yang dicampur dengan partikel-partikel kayu yang kemudian dipanaskan dan ditarik sehingga membentuk suatu lembaran yang ditekan untuk membentuk suatu lembaran panel. Proses ini membutuhkan suatu jenis lem yang tidak terlalu cepat mengeras pada suhu kamar, tetapi dengan adanya panas dan tekanan tinggi maka diharapkan reaksi pengeringan lem dapat berlangsung dengan cepat. Kekuatan dari panel ini tergantung pada distribusi (penyebaran) gaya yang tersebar di antara partikel-partikel kayu dengan adhesive yang digunakan untuk mengikatnya. 
Pada produk-produk ini biasanya komposisi adhessive berkisar antara 2% - 8% dari keseluruhan masa seluruh produk. Dengan melihat besarnya prosentase dari komposisi panel tersebut maka harga adhessive menjadi salah satu faktor yang sangat penting. Karena pada proses ini pengeleman dikerjakan dengan merekatkan kayu-kayu kecil maka pengisian gap tidak merupakan masalah, tetapi over penetrasi addhesive malah bisa merupakan masalah yang lebih besar.
Pengeleman pada plywood mempunyai karakteristik yang sedikit berbeda. Plywood memiliki permukaan yang rapat karena itu maka masalah pengeleman lebih banyak berkaitan dengan masalah permukaan. Selain itu karena sebagian besar wood adhessive dibuat dari amino maka emisi gas formaldehyd merupakan salah satu problem yang merupakan isu yang sering dikemukakan dalam industri wood adhesives. Beberapa aturan baru yang saat ini mulai diperkenalkan mengenai batasan emisi gas telah menjadikan problem tersendiri bagi industri wood adhessive.

contoh pengunaan lem kayu
Dibutuhkan 3 jenis lem yang  berbeda untuk perekatan 3 potong produk kayu
Untuk tujuan laminasi dan finger joint pada kayu maka adhesive yang dibutuhkan adalah jenis yang bisa kering pada suhu kamar atau dengan pemanasan. Faktor harga adhessive juga telah menjadi semakin penting, karena kenyataan saat ini industri kayu semakin banyak yang menggunakan papan dengan ukuran ketebalan yang semakin kecil karena kesulitan mendapatkan pohon dengan ukuran yang besar. Secara umum lem untuk laminasi membutuhkan jenis lem yang memiliki ketahanan yang tinggi terhadap air. Selain itu untuk beberapa produk, maka warna lem juga menjadi hal yang penting.
Lem untuk assembling dan konstruksi membutuhkan jenis yang bisa kering pada suhu kamar dengan waktu yang tidak terlalu cepat. Lem yang digunakan untuk assembling pada produk mebel, biasanya merupakan lem dengan viskositas yang rendah yang menghasilkan warna-warna muda dan tidak memerlukan ketahanan sangat tinggi terhadap solvent dan air. Sebaliknya lem yang digunakan untuk konstruksi bangunan dari kayu merupakan lem yang memiliki kelenturan yang tinggi, tetapi warna yang tua tidak merupakan masalah.
Perubahan dari penggunaan solid wood ke enginering wood telah meningkatkan konsumsi lem dalam industri woodworking. Dan penggunaan berbagai lem yang spesifik menjadi semakin dibutuhkan. Sebagai contoh, suatu persilangan balok kayu bisa saja memiliki tiga jenis lem sekaligus didalamnya. Suatu lem untuk finger joint digunakan jenis melamine formaldehyde, sedangkan untuk menyatukannya dalam suatu laminasi kayu dibutuhkan lem jenis phenol-resorcinol formaldehide. Sedangkan untuk menyatukan potongan satu dengan yang lain digunakan lem jenis emulsion polymer isocyanat (pu). Masing-masing memilki sifat-sifat kimia yang berbeda dan memberikan ikatan optimal dalam kondisi, waktu, suhu, dan tekanan yang berbeda. Kebutuhan jenis lem yang berbeda juga bisa dipengaruhi oleh jenis-jenis kayu yang direkatkannya.