Cari artikel

Sabtu, 30 Agustus 2014

pengeringan kayu

Pengeringan kayu merupakan salah satu proses utama dalam industri woodworking. Kayu yang baru ditebang memiliki kandungan air yang sangat tinggi dan membutuhkan pengeringan sampai kadar air tertentu untuk dapat mencapai kekuatan yang maksimal. Kekuatan pada diperoleh dari struktur cellulose (serat kayu) dan lignin, sedangkan kandungan air dalam kayu hanya merupakan beban saja pada struktur kayu. Kayu yang basah juga akan membuat kayu menjadi media yang ideal untuk pertumbuhan bakteri dan jamur. Penggunaan kayu basah akan menimbulkan banyak masalah antara lain adalah: kayu yang pecah, jamur pada kayu, dan masalah-masalah finishing.
Pengeringan kayu ini sebenarnya merupakan proses yang dapat terjadi secara alami. Kayu merupakan suatu bahan yang bersifat higroskopis (bahan yang menyerap air). Kayu yang masih basah apabila diletakkan di alam terbuka maka dia akan mengeluarkan air yang dikandungnya sampai kadar air didalamnya seimbang dengan kelembaban udara lingkungannya. Sebaliknya kayu yang kering apabila diletakkan dalam lingkungan yang mempunyai kelembaban udara yang tinggi akan menyerap air dari udara sampai kandungan airnya berkeseimbangan dengan kelembaban udara lingkungannya.
Tingkat kadar air dari kayu yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk yang aman sebenarnya tergantung pada kondisi lingkungan dimana produk dari kayu tersebut akan digunakan. Kadar air kayu akhir yang disarankan adalah kadar air kayu yang berkeseimbangan dengan kelembaban udara di lingkungan dimana produk kayu tersebut akan digunakan. Apabila kondisi ini dapat dipenuhi maka kayu akan relatif stabil, karena perubahan kadar air yang terlalu drastis tidak akan terjadi lagi. Untuk melihat kadar air yang dibutuhkan maka dapat dilihat pada grafik kadar air kayu vs kelembaban udara lingkungan di bawah ini. 

grafik kadar air vs kelembaban udara

Kayu yang diperoleh dari pohon yang baru dipotong mempunyai kandungan air yang sangat tinggi sekitar 60% atau lebih. Sedangkan untuk bisa digunakan dalam industri wooodworking, kayu harus cukup kering, biasanya dengan kadar air sekitar 10%. Untuk bisa menurunkan kadar air tersebut maka kayu harus dikeringkan dulu. Pengeringan kayu ini sebenarnya akan terjadi secara alami dengan meletakkan kayu yang sudah dipotong dan dibelah di alam sampai kayu menjadi kering. Cara ini banyak digunakan pada jaman dulu ketika industri woodworking masih belum maju dan berkembang seperti sekarang. Bahkan pada jaman dulu kalau PT Perhutani memotong pohon jati di perkebunannya maka pohon itu dimatikan dulu dan dibiarkan selama beberapa bulan. Beberapa bulan kemudian ketika kayunya sudah kering, baru pohon itu ditebang dan kayunya diambil untuk berbagai macam keperluan.
pengeringan kayu secara tradisional
Pengeringan kayu secara alami ini akan membutuhkan waktu yang sangat lama dan akan sangat tergantung pada kondisi alam. Beberapa jenis kayu juga akan beresiko untuk rusak terkena jamur atau diserang serangga pada saat proses pengeringannya. Karena itu maka industri woodworking modern menciptakan alat untuk pengeringan kayu yang dikenal sebagai oven kayu atau kiln dry. Dengan penggunaan oven ini maka proses pengeringan kayu dapat berlangsung dengan lebih cepat dan terkontrol.
Untuk mempercepat proses pengeringan kayu, maka pohon yang baru ditebang dipotong dan dibelah menjadi papan-papan dengan ukuran tertentu dan kemudian dimasukkan ke dalam oven kayu. Di dalam ruang oven, udara dipanaskan dan sehingga akan mempercepat proses pengeringan. Dengan naiknya suhu udara maka kelembaban udara akan turun dan dengan demikian maka kadar air dalam kayu akan turun menyesuaikan dengan lingkungannya. Pengaturan suhu ruangan dalam oven merupakan satu hal yang sangat penting untuk mengatur kecepatan proses pengeringan kayu. Semakin tinggi suhu ruang oven, maka kecepatan penguapan air di dalam kayu akan semakin cepat juga dan membuat proses pengeringan kayu menjadi semakin cepat.
Selain pengaturan suhu ruang oven, hal lain yang tidak kalah penting adalah sirkulasi udara dalam oven. Penguapan hanya bisa terjadi apabila udara di dalam ruangan masih bisa menerima uap air. Udara yang sudah jenuh dengan uap air tidak akan bisa menerima uap air dari kayu dan pengeringan kayu akan segera berhenti saat itu juga. Udara dalam ruangan yang sudah jenuh dengan uap air harus segera dikeluarkan dan diganti dengan udara yang masih segar.
Kecepatan pengeringan kayu yang dilakukan dengan oven harus diatur dengan benar. Penurunan kadar air dalam kayu akan selalu diikuti dengan penyusutan volume kayu. Pengeringan kayu yang terlalu cepat akan membuat penyusutan kayu berjalan dengan cepat dan beresiko untuk merusak kayu seperti: kayu yang pecah, retak, melengkung atau berubahnya warna kayu. Untuk kayu yang akan digunakan sebagai bahan untuk konstruksi, support atau bagian dalam tidak terlalu membutuhkan penampilan yang indah, maka dapat dilakukan proses pengeringan yang lebih cepat. Adanya sedikit kerusakan kayu, seperti kayu yang retak warna kayu yang berubah  tidak menjadi masalah selaam secara konstruksional kayu masih kuat.
Sebaliknya apabila papan kayu tersebut akan digunakan untuk membuat produk-produk yang membutuhkan keindahan penampilan seperti: mebel, lantai, pintu atau produk-produk arsitektural, maka dibutuhkan papan kayu dengan kulitas yang baik. Untuk itu maka kayu harus dikeringkan dengan hati-hati supaya tidak menjadi rusak. Beberapa jenis kayu yang memiliki koefeisien penyusutan yang besar harus dikeringkan dengan perlahan-lahan untuk mengurangi resiko kayu yang rusak. Untuk menentukan kecepatan pengeringan kayu, maka kita membutuhkan data penyusutan dan volume kayu versus kadar air kayu. Untuk jenis-jenis kayu dari Amerika dan Eropa maka data ini biasanya sudah tersedia cukup lengkap karena industri kayu di daerah ini sudah sangat maju. Sayangnya data koefisien penyusutan kayu ini seringkali tidak mudah didapat di Indonesia, sehingga pengeringan kayu di Indonesia lebih banyak dilakukan dengan dasar pengalaman.