Cari artikel

Memuat...

Minggu, 20 Juli 2014

Wood Filler

Wood filler adalah bahan finishing untuk mengisi pori-pori dan serat kayu. Wood filler ini merupakan bahan finishing yang digunakan untuk membantu mempercepat proses finishing untuk menghasilkan finishing dengan pori-pori tertutup. Wood filler ini banyak digunakan pada proses finishing untuk kayu atau veneer, yang mempunyai pori-pori dan serat kayu yang besar dan dalam seperti kayu mindi, oak, meranti, mahoni, jati dan lain-lain. Wood filler akan sangat mengisi serat dan pori kayu sehingga akan  mengurangi konsumsi sealer atau lacquer untuk menghasilkan close pores finish.
Wood filler dibuat dari bahan utama berupa bulking agent, resin atau campuran resin, dan pelarut. Bulking agent adalah bahan yang mempunyai penyusutan yang sangat kecil, yang banyak dipakai adalah sejenis ground silica yang digiling sangat halus. Bahan ini berfungsi untuk mengisi pori-pori dan serat kayu. Resin adalah bahan yang berfungsi sebagai binder (pengikat) supaya wood filler tersebut dapat bersatu dan membantuk padatan yang solid. Jenis resin yang digunakan untuk binder ini akan menentukan sifat-sifat utama dari wood filler seperti waktu pengeringan, thinner yang bisa digunakan, aplikasi yang bisa dilakukan, dll. Beberapa resin yang banyak dipakai adalah: oil, varnish, acrylic atau urethane. Kemudian ke dalam wood filler dapat ditambahkan pigmen untuk mendapatkan warna sesuai dengan kebutuhan.
Penggunaan woodfiller ini sangat dianjurkan untuk mencapai finishing close pores pda kayu-kayu dengan pori-pori dan serat kayu yang besar dan dalam. Pemakaian woodfiller akan mengurangi jumlah penggunaan sealer untuk mencapai close pores finish. Meskipun kita bisa saja melakukan aplikasi sealer yang tebal untuk mengisi dan menutup pori dan serat kayu, namun hal ini tidak dianjurkan karena akan menghabiskan banyak sealer dan memerlukan waktu pengerjaan yang lama. Clear coating (sealer dan lacquer) sebenarnya dibuat untuk membuat lapisan film dan memberikan perlindungan pada finishing, tidak untuk mengisi pori-pori kayu. Jadi sebenarnya pemakaian sealer atau lacquer  dengan tujuan untuk menutup pori-pori kayu adalah suatu hal yang kurang tepat.      
Menurut jenisnya ada bermacam-macam jenis filler sesuai dengan bahan pembuatnya misalnya ada wood filler acrylic, waterbase, uv, pu, dan lain-lain. Jenis woodfiller ini ditentukan oleh campuran resin yang digunakan sebagai binder dalam campuran. Setiap jenis dari wood filler tersebut akan mempunyai sifat-sifat yang berbeda-beda dan bisa jadi membutuhkan perlakukan yang berbeda juga. Wood filler ini biasanya diaplikasikan pada permukaan kayu dan kemudian diikuti dengan proses pengamplasan  untuk membersihkan woodfiller yang berada di permukaan. Ada yang melakukan aplikasi wood filler di atas sealer pada pertengahan proses finishing. Ada juga suatu jenis filler yang dinamakan sebagai wiping filler yang memang di design untuk diaplikasikan di atas sealer seperti aplikasi glaze.

Cara aplikasi woodfiller.

Woodfiller ini merupakan bahan yang sangat kental. Wood filler biasanya diaplikasikan dengan cara dituang ke permukaan kayu dan kemudian diratakan dengan kapi atau scrap. Karena bahan ini kental, maka dibtuhkan proses penekanan untuk memasukkan woodfiller ke dalam pori-pori dan serat kayu. Kemudian tunggu sampai filler kering dan dilanjutkan dengan proses pengamplasan untuk membersihkan wood filler yang ada di permukaan. Untuk beberapa jenis filler, pembersihan permukaan bisa saja dilakukan dengan proses pengelapan. Proses pengelapan ini dilakukan setelah wood filler diaplikasikan secara merata ke permukaan dan pada saat wood filler masih belum kering. Dibutuhkan filler dari jenis yang tidak terlalu cepat kering untuk bisa diaplikasikan dengan cara ini.  Wood filler ini bisa saja diencerkan dan diaplikasikan dengan cara spray, namun hal ini akan mengurangi daya pengisian dan penutupan pori.  
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada apliaksi woodfiller: 
  • Pengeringan woodfiller.
Filler ini merupakan bahan yang kental sehingga pada umumnya akan membutuhkan waktu pengeringan yang relatif lama. Namun demikian wood filler ini harus benar-benar kering sebelum  dilanjutkan dengan proses finishing berikutknya. filler yang belum kering akan bisa membawa banyak masalah seperti masalah adhesi pada lapisan finishing, warna putih dalam pori dan serat kayu, bubble atau pinhole atau masalah-masalah lainnya.
  • Pembersihan filler.
Wood filler ini harus dibersihkan dengan baik sehingga hanya tertinggal di dalam pori dan serat kayu saja. Filler ini merupakan bahan pengisi yang dibuat untuk mengisi pori dan serat dan tidak di design untuk melapisi permukaan. Wood filler yang tertinggal di permukaan akan mengganggu penampilan dan juga akan beresiko untuk menimbulkan masalah adhesi pada lapisan finishing. 
  • Pemilihan jenis filler.
Wood filler ini biasanya diaplikasikan pada proses awal dari suatu rangkaian proses finishing.  Aplikasi wood filler ini biasanya diikuti dengan  serangkaian proses finishing untuk membentuk warna, membentuk gloss, lapisan film dan proses-proses lainnya. Untuk dapat menghasilkan hasil finishing yang kuat dan aman, maka maka woodfiler yang dipakai harus bisa compatible dengan proses-proses finishing diatasnya. Pada saat kita memilih wood filler maka pertimbangkan keseluruhan proses finishing yang akan dilakukan. Pastikan bahwa filler yang digunakan cocok dan bisa diikuti dengan proses finishing diatasnya tanpa ada masalah.   

Sabtu, 19 Juli 2014

Cat waterbase (waterbased coating)

Waterbased coating (cat waterbased) adalah bahan finishing yang menggunakan air sebagai pelarut utama. Berbeda dengan solvent base finishing material, waterbased coating ini hanya sedikit mengeluarkan emisi gas pada saat proses pengeringannya sehingga tidak akan mengotori udara lingkungan. Adanya isu yang berkembang saat ini mengenai keselamatan lingkungan ditambah dengan harga solvent yang semakin mahal, telah membuat produk-produk yang berbasiskan air menjadi pilihan yang sangat menarik. Tingginya dorongan untuk mengunakan waterbased material ini juga telah mendorong industri finishing material untuk mengembangkan produk ini sehingga produk yang dihasilkan menjadi semakin baik. Resin, bahan-bahan dan additif yang dibutuhkan sudah semakin banyak tersedia dan dan penelitian-penelitian telah semakin banyak dilakukan sehingga produk-produk waterbased menjadi semakin sempurna. 
Teknologi waterbased coating ini sebenarnya sudah lama dikenalkan pada industri finishing, mulai dari sekitar tahun 1970 an. Dan akhir-akhir ini maka pengembangan-pengembangan baru telah dibuat untuk mengatasi masalah-masalah dari waterbased coating yang dulu merupakan penghambat penggunaan bahan ini. Karena itu maka produk-produk waterbased saat ini mempunyai performa yang lebih baik.

Keuntungan waterbased coating                                                                                      
  • Waterbased coating ini relatif aman.
Bahaya kebakaran merupakan salah satu resiko yang paling besar pada suatu finishing room. Semua solvent dan solvent base material merupakan bahan yang mudah terbakar, karena itu maka ruang untuk aplikasi dan penyimpanan bahan finishing harus dilengkapi dengan perlengkapan keamanan yang cukup tinggi. Sedangkan waterbased material menggunakan air sebagai solvent utama tentu merupakan bahan yang jauh lebih aman dibandingkan solvent base material.
  • Waterbase coating merupakan bahan yang lebih ramah lingkungan
Proses finishing yang mengunakan solvent pasti akan mengeluarkan gas dari penguapan solventnya baik pada saat aplikasi maupun saat pengeringan. Waterbased yang menggunakan air sebagai pelarut utama memang masih mengeluarkan solven, tetapi tentu saja dalam jumlah yagn jauh lebih sedikit dibandingkan dengan material finishing dengan pelarut thinner atau solven.  
  • Waterbased material memiliki nilai tambah sebagai bahan yang dianggap lebih ramah lingkungan
Saat ini masyarakat dunia sedang menghadapi isu mengenai lingkungan. Hal ini juga mempengaruhi perilaku beberapa anggota masyarakat dalam memilih barang. Orang akan lebih menyukai barang-barang yang dianggap lebih ramah lingkungan. Produk-produk yang difinishing menggunakan water based material akan dapat memiliki nilai tambah dengan dianggap sebagai produk yang lebih ramah lingkungan. 
Kekurangan cat waterbased 
  • Aplikasi yang relatif sulit
Waterbased coating merupakan cat dengan air sebagai bahan pelarut utama. Sedankan air bagaimanapun juga merupakan bahan yang relatif lebih sulit untuk menguap dibandingkan dengan solven. Pengeringan cat ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan waktu proses pengeringan terjadi. Pada saat udara kering dan panas, maka proses penguapan air relatif mudah terjadi dan proses pengeringan lapisan cat dapat terjadi dengan cepat dan mudah. Namun pada saat kondisi udara lembab dan basah, maka proses pengeringan menjadi lambat. Untuk aplikasi pada kayu, maka air yang ada didalam cat berpotensi untuk diserap oleh kayu dan mengakibatkan naiknya kadar air kayu yang kemudian berujung pada timbulnya masalah pada produk.
  • Penampilan finishing yang agak buram.
Lapisan coating dari waterbase ini akan menghasilkan lapisan film yang sedikit buram terutama apabila lapisan film yang dihasilkan terlalu tebal. Penampilan dan warna finishing yang dihasilkan tidak bisa sejernih seperti pada lapisan film yang dihasilkan oleh cat jenis NC.


Jumat, 18 Juli 2014

Kayu mangga

Kayu mangga (Mangifera indica) saat ini merupakan salah satu jenis kayu yang banyak digunakan sebagai bahan baku untuk membuat mebel. Pada awalnya kayu mangga ini digunakan sebagai substitusi kayu mahoni karena pada waktu itu tersedia dalam jumlah yang sangat banyak dengan harga yang sangat murah. Namun kemudian ternyata diketahui bahwa kayu ini memiliki penampilan serat dan warna yang indah sehingga banyak disukai oleh banyak orang. Dan sejak itu kemudian banyak permintaan dari para buyer yang menginginkan produk mebel dengan bahan baku kayu mangga.
 Kayu mangga ini memiliki kekerasan yang medium dengan berat yang relatif ringan. Kayu ini secara fisik relatif mudah dibentuk dan ditangani dalam industri pembuatan mebel. Kayu ini memiliki tektur serat dan pori-pori yang tidak terlalu besar hampir seperti pori-pori pada kayu mahoni. Kayu ini memiliki serat dengan karakter yang sangat kuat dengan pola tidak teratur yang khas. Pola serat kayu mangga tidak teratur baik bentuk, penampilannya, Vareasi dari kayu mangga ini bisa berbeda antara satu bagian dengan bagian yang lain untuk kayu dari 1 pohon. Penampilan serat dan pori dari kayu ini juga akan bervareasi tergantung pada jenis species dari kayu dan lokasi pohon ini tumbuh. Karakter serat kayu yang kuat dan bervareasi ini membuat kayu mangga ini menjadi spesial dan menarik. Dengan proses finishing dan pemilihan design yang tepat, maka kayu ini dapat menghasilkan produk dengan penampilan yang sangat menarik.

mango wood

Kayu mangga memiliki warna dasar yang muda, putih muda kekuningan. Seringkali terdapat beberapa bercak berwarna kuning, coklat atau hitam alami yang membuat kayu ini menjadi sangat menarik bagi para penggemarnya.
Sifat-sifat fisik kayu mangga.
  • berat rata-rata kering         : 42 lbs/ft3 (670 kg/m3
  • specific gravity (mc 12%)     :55, .67
  • kekerasan menurut test Janka : 1,120 lbf (4,980 N)
  • modulus patah                       : 13,300 lbf/in2 (91.7 MPa)
  • modulus elastisitas                 : 1,673,000 lbf/in2 (11.54 GPa)
  • penyusutan                           : Radial: 2.5%, Tangential: 5.4%, Volumetric: 8.1%, T/R Ratio: 2.2

http://www.wood-database.com/lumber-identification/hardwoods/mango/

Pengolahan kayu mangga.

Kayu mangga ini merupakan salah satu jenis kayu beresiko tinggi kena serangan serangga. Kayu mangga merupakan jenis kayu buah yang secara alami disukai seranga pemakan kayu berupa wood beetle bug yang kita kenal sebagai bubuk kayu, thether atau thothor. Ada banyak kejadian dimana mebel atau produk yang dibuat dari kayu ini menjadi rusak dan bahkan hancur karena dimakan serangga bubuk kayu. Suatu proses pengolahan yang benar dibutuhkan oleh kayu ini supaya dapat terhindar dari serangan serangga pemakan kayu. Kayu ini juga memiliki getah didalamnya yang mengganggu proses penyerapan bahan kimia ke dalam kayu. Pencelupan kayu dalam larutan obat anti serangga seringkali tidak cukup untuk mengatasi serangan serangga pemakan kayu. Proses treatment yang direkomendasikan adalah dengan cara vakum. Dengan proses vakum maka getah di dalam kayu akan disedot keluar dan kemudian digantikan dengan bahan kimia yang berfungsi untuk membuat kayu menjadi beracun dan tidak disukai serangga.
Kayu ini juga rentan terhadap serangan jamur kayu. Kayu dari pohon yang tidak segera diproses dan dikeringkan dengan benar akan mudah terkena jamur kayu dan terkena blue stain. Karena itu proses penebangan dan pengeringan kayu ini harus dikontrol dengan baik.

Finishing untuk kayu mangga.
Kayu mangga memiliki pola serat yang unik dengan karakter serat yang kuat, sehingga dengan pemilihan finishing yang tepat dapat menghasilkan suatu produk mebel yang menarik dan indah. Pola serat pada kayu mangga ini mempunyai bentuk yang bervareasi yang tidak beraturan sehingga bisa menimbulkan kesan yang ramai. Finishing dengan warna transparan akan dapat menampilkan keunikaan dari pola serat dan penampilannya secara maksimal. Finishing dengan model antik merupakan pilihan yang sangat cocok untuk kayu ini. Seratnya yang ramai dan tidak teratur dapat menghasilkan penampilan antik secara alami. Adanya sedikit blue stain yang tipis pada beberapa permukaan malah bisa membuat kesan penampilan finishing yang lebih hidup.
Kayu ini memiliki warna kuning muda atau putih sehingga dapat difinishing dengan banyak pilihan warna. Kayu solid mangga ini dapat dipakai sebagai kombinasi dengan veneer yang berwarna putih seperti maple, ash, oak dengan hasil yang cukup baik. Kayu ini memiliki pori-pori dan serat yang tidak terlalu besar tetapi, bagaimanapun juga penggunaan filler tetap disarankan untuk finishing yang close pores.

kayu karet

Kayu karet (rubberwood, hevea brasiliensis) merupakan salah satu kayu yang digunakan dalam industri woodworking. Kayu karet banyak digunakan sebagai bahan baku mebel, pintu, jendela dan berbagai macam produk kayu lainya. Pohon karet sebenarnya ditanam dan dibudi dayakan untuk diambil getahnya sebagai bahan baku dalam industri karet. Pohon karet yang sudah melampui usia produktifnya ini kemudian ditebang dan kayunya dimanfatkan dalam indsutri woodworking. Penggunaan kayu karet dalam industri woodworking sebenarnya bukan merupakan hal yang mudah dilakukan. Kayu ini secara alami memilki getah yang harus dikeluarkan dulu supaya tidak mengganggu penggunaannya dalam industri woodworking.
Pengolahan yang benar sangat dibutuhkan untuk mendapat kayu karet dengan kualitas yang baik. Kayu karet ini juga sangat rentan tehadap serangan jamur dan serangga pemakan kayu. Kayu yang sudah ditebang harus segera diproses supaya tidak terkena blue stain akibat serangan jamur. Pengolahan dengan bahan kimia anti serangga (wood repellent) juga dibutuhkan untuk mencegah serangan serangga pemakan kayu.
Proses pengolahan khusus berupa vakum treatment dibutuhkan untuk mengeluarkan getah dari dalam kayu yang akan mengganggu proses pengerjaan pada kayu ini. Prinsip dari proses vakum adalah menempatkan kayu karet yang sudah dipotong dan dibelah dengan ukura tertentu ke dalam ruangan vakum untuk mengeluaran getah dari dalam kayu. Pertama kali papan kayu karet ini dimasukkan ke dalam ruangan untuk digodog dengan air panas selama beberapa jam, kemudian air di dalam ruangan ini disedot dan dikeluarkan sampai seluruhnya. Proses penyedotan diteruskan sampai seluruh udara dalam dalam ruangan keluar sehingga getah di dalam kayu tertarik keluar dari dalam kayu. Kemudian ketika seluruh (sebagian besar) dari getah sudah keluar, maka kemudia campuranair dingin dengan bahan kima pengawet kayu dimasukkan ke dalam ruangan supaya mengisi pori-pori kayu. Kayu yang sudah terisi campuran obat pengawet kayu ini kemudian dikeluarkan dari dalam ruangan vakum untuk dikeringkan dalam oven kayu.
Diluar prosesnya yang agak rumit ini kayu karet sebenarnya memiliki beberapa keunggulan unmtuk digunakan dalam industri woodworking. Kayu ini mempunyai harga yang relatif murah dengan sifat-sifat yang cukup ideal. Kayu ini merupakan kayu dengan kekerasan medium yang dapat ditangani dengan secara permesinan dengan mudah. Kayu ini dapat dibor, dilem, dipotong, dibentuk dan diamplas dengan mudah.
Sifat-sifat fisik kayu karet dapat dilihat di tabel di bawah ini:
  • Berat rata-rata kering:  37 lbs/ft3 (595 kg/m3)
  • Specific Gravity (basis: 12% MC): 0.49, 0.59
  • Test kekerasan dengan Janka Hardness: 960 lbf (4.280 N)
  • Modulus Patah: 10420 lbf/in2 (71,9 MPa)
  • Modulus elastis: 1314000 lbf/in2 (9,07 GPa)
  • Kekuatan terhadap crushing: 6.110 lbf/in2 (42,1 MPa)
  • Penyusutan rata-rata: Radial: 2,3%, tangensial: 5,1%, Volumetrik: 7,5%, T / R Ratio: 2.2
Finishing untuk kayu karet.
Kayu karet memiliki warna dasar putih dan coklat muda dengan tekstur pori-porinya dan serat yang dalam dan besar. Berbagai macam finishing dengan warna-warna transparan dapat dihasilkan dari kayu ini. Mulai dari warna-warna muda sampai dengan warna-warna yang tua dan gelap dapat diaplikasikan pada kayu ini. Kayu ini cukup luwes bisa dipasangkan dengan beberapa kayu atau veneer dari banyak jenis kayu seperti : oak, maple, ash, mangga atau bahkan kayu mahoni. Warna dasarnya yang putih atau coklat muda membuatnya dapat difinishing dengan berbagai macam warna tanpa ada masalah.
Meskipun memiliki warna dasar yang muda dan memiliki fleksibilitas yang tinggi untuk pemilihan warna, tetapi proses finishing untuk kayu karet harus dilakukan dengan cara yang benar. Kayu ini memiliki porositas yang tinggi dengan pori-pori dan serat yang besar. Kayu ini cenderung untuk menyerap bahan finishing yang berlebihan sehingga memiliki resiko tinggi untuk terjadi blotchy color (warna stain yang kotor dan tidak rata). Stain dengan aplikasi yang terlalu basah sebaiknya dihindari. Proses sealer sizing atau glue sizing dapat dilakukan untuk mengurangi resiko terjadinya blotchy color. Kayu karet yang sudah diamplas halus ini sebaiknya tidak dibiarkan dalam udara terbuka terlalu lama, karena dia akan menyerap air dari udara yang mengakibatkan naiknya bulu-bulu kayu yang dan membuat permukaan menjadi kasar.
Apabila suatu close pores finish yang diinginkan, maka aplikasi filler dibutuhkan untuk mengisi dan menutup pori-porinya. Aplikasi filler dengan warna muda pada awal proses finishing juga bisa dilakukan dengan tujuan utuk mengurangi penyerapan stain kedalam pori-pori kayu sehingga mengurangi resiko masalah blocthy color.
Warna-warna solid juga bisa diterapkn pada kayu karet dengan hasil yang baik asalkan proses treatment awal sudah dilakukan dengan baik. Getah karet yang masih ada di dalam kayu bisa keluar dan muncul sebagai noda atau bercak-bercak yang akan mengganggu penampilan finishing. Karena itu sebaiknya dipastikan bahwa proses treatment sudah dilakukan dengan benar dan sebagian besar getah kayu sudah dikeluarkan dari dalam kayu. Penggunaan anti getah kayu pada awal proses finishing juga bisa dilakukan untuk mengurangi resiko munculnya getah kayu.

Kamis, 17 Juli 2014

kayu jati

Kayu jati ini merupakan salah kayu yang terbaik untuk digunakan sebagai bahan baku mebel atau bahan-bahan untuk produk kayu lainnya. Kayu jati ini banyak tumbuh di daerah asia, dan merupakan produk kayu unggulan dari Indonesia. Kayu jati banyak digunakan sebagai kerangka rumah, pintu, mebel, pagar, lantai kayu, dll.
Kayu jati memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan jenis-jenis kayu yang lain. Antara lain: mudah ditangani, awet, tidak mudah retak dan memiliki penampilan serat dan pori yang sangat menarik. Kayu jati mengandung minyak didalamnya yang dikenal sebagai teak oil. Minyak ini membuat kayu jati menjadi awet karena tidak disukai oleh ulat atau serangga. Semakin tua usia kayu jati, maka semakin banyak kandungan minyak di dalamnya dan semakin baik kualitasnya. Kayu jati memiliki pola serat yang sangat menarik. Dia memiliki warna dasar coklat muda keemasan dengan karakter serat yang sangat kuat, dengan tektur serat dan pori yang dalam.
Indonesia memiliki perusahaan perkebunan jati dengan pengelolaan yang sangat bagus yaitu PT Perhutani. Kayu jati dengan kualitas terbaik selalu diperoleh dari PT Perhutani. Sistem penanaman dan pengelolaan kayu jati sudah dilakukan dengan cara yang sistematis dan terorganisasi sejak dulu ketika jaman Belanda. Beberapa waktu yang lalu pengelolaan kayu jati ini banyak terganggu dengan adanya pencurian dan penebangan liar dan juga karena korupsi. Tetapi pada saat ini dengan membaiknya sistem pemerintahan dan pengawasan, maka penebangan liar dan pencurian hutan kayu sudah dapat dikurangi dengan signifikan.
Selain kayu jati yang didapatkan dari PT Perhutani, kayu jati di Indonesia juga banyak yang didapatkan dari hutan atau perkebunan rakyat yang ditanam oleh penduduk. Harga kayu jati yang mahal dan pembudi dayaannya yang relatif mudah membuat kayu ini banyak ditanam oleh penduduk. Kayu jati dari penduduk ini bisanya dapat diperoleh dengan harga yang lebih murah, dengan kualitas yang rata-rata di bawah kualitas kayu jati dari Perhutani.


partisi kayu jati


Pengeringan kayu jati.
Kayu jati yang akan digunakan untuk produk-produk kayu yang membutuhkan penampilan yang baik, ternyata harus dikeringkan dengan cara yang benar. Pada jaman dulu, orang melakukan pemotongan kayu jati hanya pada pohon yang sudah kering. Pohon jati dimatikan tanpa dipotong. Pohon jati dibiarkan mati dengan keadaan berdiri, dengan cara ini maka pohon ini akan kering secara alami. Pohon yang sudah kering ini kemudian baru dipotong dan dibelah untuk digunakan.
Pada saat ini maka pengeringan kayu jati banyak dilakukan dengan menggunakan oven kayu. Kayu jati dipotong dan dibelah, kemudian dimasukkan dalam kiln dry untuk dikeringkan. Untuk mendapatkan kayu dengan kualitas terbaik, maka pengeringan kayu jati tidak boleh terlalu cepat. Biasanya dibutuhkan waktu sekitar 4 minggu sampai 6 minggu pengeringan untuk mendapatkan hasil kayu yang maksimal. Pengeringan yang terlalu cepat bisa mengurangi kualitas kayu dengan adanya kayu yang retak, melengkung atau masalah dengan warna kayu yang gelap. Pengeringan dengan menggunakan pre drier kiln juga bisa digunakan untuk menghasilkan kualitas kayu yang lebih baik.
Kayu jati yang digunakan untuk membuat produk kayu bagaimanapun juga harus kayu yang sudah kering. Penggunaan kayu yang masih basah akan menimbulkan masalah di kemudian hari seperti masalah kayu pecah, melengkung atau bahkan masalah jamur. Kayu yang sudah kering juga memiliki resiko yang lebih kecil untuk terkena masalah dari minyak kayu di dalamnya.
Kayu jati memiliki pola serat, pori-pori dan warna dasar yang sangat bagus. Pada umumnya produk dari kayu jati ini dapat dijual dalam keadaan unfinished karena penampilannya sudah sangat menarik. Kayu ini memiliki warna dasar coklat muda dengan karakter serat dan pori yang kuat dan indah. Finishing sederhana dengan menggunakan teak oil atau wax yang tipis saja sudah bisa menghasilkan penampilan yang sangat menarik. Tetapi tentu saja dengan finishing yang benar, maka kayu jati ini bisa menghasilkan produk dengan penampilan yang lebih indah lagi. Lapisan finishing yang tepat juga akan membuat kayu menjadi lebih stabil dan lebih awet. Finishing dengan warna transparan (warna kayu atau warna politur) merupakan pilihan terbaik untuk kayu ini. Dengan finishing transparan, maka keindahan warna dasar struktur serat dan pori kayu dapat ditampilkan secara maksimal. Aplikasi stain dengan kombinasi glaze akan bisa lebih menonjolkan keindahan serat kayu dan pori kayu dengan lebih maksimal.
Finishing dengan warna solid (warna duko, warna opak) sebaiknya tidak digunakan untuk kayu jati. Minyak yang ada di dalam kayu beresiko akan keluar dan mengganggu penampilan finishing. Minyak yang keluar akan muncul sebagai suatu getah berwarna coklat ke kuningan-kuningan dan akan sangat mengganggu penampilan finishing. Ada beberapa bahan finishing yang ditawarkan untuk mengatasi masalah minyak kayu jati ini dengan cara menutup minyak supaya tidak keluar. Namun pada prakteknya bahan-bahan tersebut tidak bisa memberikan jaminan sepenuhnya bahwa minyak kayu tidak keluar.
Selain problem dengan minyak, warna solid untuk kayu jati juga akan menutup dan mematikan keindahan kayu jati. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan tujuan finishing yang berfungsi untuk menambah dan memaksimalkan warna dan keindahan kayu. Apabila suatu produk kayu membutuhkan warna-warna solid, maka kita dapat menggunakan kayu lain yang lebih murah tanpa ada resiko mendapatkan masalah dengan minyak kayu didalam